Senin, 20 November 2017

Badgirl is my teacher ch 1

My Sweet BadGirl chapter 1

Menyelusuri tanah dengan perumputan sederhana, terinjak - injak dengan embun air disana. Matahari yang tampak mulai redup, mulai menunjukkan bulan yang akan menggantikannya.

Seorang gadis berambut hitam kecoklatan panjang sepinggangnya, dengan erat menggenggam jaket hijau miliknya berharap angin dingin tak berhembus. Ia menelan ludah sambil berlutut dihapan sebuah nisan. Ia mengelus nisan tersebut dengan lembut dan terpancar sinar kerinduan.

"Dan sampai sekarang, aku masih tak bisa melupakan mu. Kenapa kau membuat ku seperti ini?" Tanya gadis itu lirih bersamaan tenggelamnya matahari. Ia pun beranjak lalu meninggalkan tempat itu dengan kesedihan nan penyesalan
----

"ADELINA, SUDAH BERAPA KALI IBU BILANG SAMA KAMU, JABGAN BUAT HAL YANG ANEH - ANEH LAGI." teriak seorang ibu guru menggema seluruh ruang kelas. Dengan rambut bu guru itu yang basah dan lepek, tercium bau bekas pel yang menyengat.

"Gak bisa sih bu, kebiasaan." Ucap Adelina, gadis biang kerok nya kali ini. Adelina hanya meyengir tak bersalah menatap guru fisikanya yang telah basah kunyup dibuatnya.

"SEKARANG IKUT IBU KE RUANG GURU, BIAR IBU KASIH PELAJARAN KE KAMU."

"Yah Bu, tapi kan saya sudah pintar. Buat apa dikasih pelajaran lagi?" Tanya Adelina memberanikan diri membuat sang ibu guru menatap tajam Adelina. Merasakan hawa permusuhan, ia pun tersenyum manis lalu segera ke ruang guru sebelum masalah semakim besar.

Ruang guru...

"Untung kamu pintar, coba kalau tidak, mungkin kamu sudah dikeluarkan dari dulu." Ucap bu guru nya, bu.Lastri si guru fisika.

"Ya baguslah, berarti Tuhan masih sayang sama saya karna diberi berkah." Ucap Adelina dengan santai.

"Bahkan, buku pelanggaran ibu sudah penuh dengan nama mu. Mau ibu kasih pelajaran apa kr kamu ini? Tobatlah nak." Tanya Bu Lastri pasrah yang dijawab adelina dengan mengangkat bahu.

Ia menoleh ke sekeliling ruang guru yang memang cukup besar. Meja - meja guru tertata dengan rapi disertai tumpukkan kertas di setiap meja.

Tapi, matanya menangkap hal lain. Seorang laki - laki yang wajahnya prnuh akan warna biru akibat pukulan. Ia hanya memakai kaos putih beserta seragam yang ua bawa. Terlihat ia kecapekan akan hal uang tak Adelina tau.

"Membersihkan toilet sudah. Mencabut rumput halaman sekolah sudah. Mencat dinding sekolaj sudah. Buat kipling 50 halaman sudah. Mau kasih pelanggaran apa lagi coba?" Tanya Bu. Lastri kesal membuat Adelina terkekeh kecil.

"Kalau begitu gak perlu kasih hukuman lagi bu, sekekali biar beda gitu." Jawab Adekina dengan cengiran, membuat Bu. Lastri mendengus kesal.

Bu. Lastri menoleh ke sekeliling untuk mendapat ide dan ketika Adelina melihat senyuman bu. Lastri, ia tau sesuatu yang buruk akan terjadi tak lama lagi.

Bu. Lastri pun beranjak dari duduknya, dan pergi menyusul seorang guru lain yang sedang menceramahi siswa yang Adelina lihat tadi. Melihat Bu. Lastri berbincang cukup lama, kecurigaan Adelina bertambah. Setelah pembicaraan selesai, Bu. Lastri pun datang kembali sambil seorang murid mengikutinya dari belakang.

"Adelina, ini hukuman mu. Kamu akan menjadi guru privat Hans selama 3 bulan, dan harus ada perkembangan, kalau tidak kau terancam dikeluarkan dari sekolah." Ucap Bu. Lastri membuat Adelina menganga tak percaya, jujur saja Adelina tau siapa Hans ini. Murid mana yang tidak tau anak pemilik sekolah.

"bu, plis sekali ini aja. Kasih hukuman yang lain bu, apapun dehh selain ini. Bahkan 3 hukuman pun Tak masalah, tapi ganti hukumannya bu." Ucap Adelina sambil memohon - mohon tapi, Bu. Lastri hanya menjawab gelengan.

"Ibu yakin dengan hukuman ini, kamu akan kapok. Sekarang kalian berdua ke kelas dan lanjutkan pelajaran, les nya dimulai hari ini."

Adelina pun keluar dari ruang guru dengan sangat pasrah dan terpaksa. Ia hanya bisa menunduk meratapi nasibnya yang selalu tidak baik.

"kalau tau hukumannya begini, nyesel gue." Ucap Adelina lirih. Adelina pun melihat Hans yang hendak pergi ke arah berlawanan dengan dia, Adelina segera mengejar Hans dan mencegat Hans di depannya.

"Denger ya, mau gak mau lo harus tetap belajar sama gue." Ucap Adelina smabil menekan kata tetap di kalimatnya.

"Sumpah, lo gak jelas banget." Ucap Hans yang hendak pergi, tapi Adelina terus bertekad menghalanginya

"dengar ya, gue juga sebenarnya gak mau. Tapi, demi masa depan gue, gue terpaksa. Jadi selama gue masih baik sekarang, gue hanya bilang satu hal sama lo. Masa depan gue bergantung sama otak lo." Ucap Adelina sewot membuat Hans mendengus kesal sambil tersenyum sinis.

"Gue bahkan gak tau sapa nama lo, lagipula itu masa depan lo, urusan sama gue apa."  Ucap Hasn lalu pergi meninggalkan Adelina yang sekarang hendak berkata kasar.

"Kenapa hidup gue selalu susah?" Tanya Adelina lirih menatap kepergian Hans yang sudha menghilang dari pandangannya. Dengan berjalan gontai, ia kembali ke kelas sebelum terkena hukuman lain.

Istirahat...

"Mana sih anak Tuyul itu, astaga" protes Adelina sambil menginjakkan kaki nya di lantai dengan keras beberapa kali karna kesal. Ia memutuskan untuk memcari si Hans itu di lapangan, dan terbukti Hans sedang asik bermain basket dengan temannya disertai sorakan perempuan - perempuan untuknya.

Adelina menggelengkan kepalanya sejenak, tapi belum ia selangkah jalan, kepalanya terbentur sesuatu yang keras dan membuatnya jatuh. Ia mengelus bagian kepalanya yang terkena lalu menyadari bahwa tadi, ia terkena lemparan bola basket. Belum sempat Adelina membalikkan bola basket itu, Hans datang dan mengambilnya.

"Jadi lo toh yang lempar bola ke gue, minta maaf kek." Ucap Adelina dengan keras membuat semua perhatian tertuju ke mereka. Adelina melihat Hans menatap dirinya dingin, mata yang benar - benar dingin, belum lagi mata Hans yang bewarna hitam itu dengan jelas melirik sinis Adelina.

Adelina hanya bisa terdiam, sambil tangannya mengepal melihat Hans mulai menjaduh darinya. Tangannya bergetar dan bergetar semakin hebat.

"Mata itu..." Ucap Adelina lirih lalu pergi meninggalkan sejuta rasa bersalah dalam hatinya.